Ini bukan cerita dari desa saya, tetapi di sebuah desa binaan LAZ Al Azhar tempatku dulu pernah bekerja selama tidak lebih dari 2 tahun. Namanya Dusun Baran dan Mundu, Desa Puloharjo, Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah. Sejak menjadi desa binaan dan ditempatkan pendamping di desa ini, perlahan kesejahteraan warga dusun Baran dan Mundu beranjak naik. Salah satunya dengan adanya program menabung sayur Tabungan Gemah Ripah.
Awalnya, seluruh warga diharuskan menanam berbagai macam sayuran di pekarangan rumah yang kebanyakan warga masih memiliki lahan cukup luas di depan dan belakang rumah. Gak seperti kaya perumahan di kota pada umumnya, hehee. Program menanam sayur di pekarangan ini diberi nama Dapur Hidup. Tujuannya ialah untuk mengurangi angka belanja dan mencukupi nutrisi keluarga. Sayuran seperti cabai, tomat dan terong pun mulai banyak di tanami warga yang bibitnya diperoleh secara gratis dari pendamping desa yang disebut Dasamas (Da'i Sahabat Masyarakat).
Pengurus Saung Ilmu saat Menimbang Sayuran Warga yang Ditabung
Suasana Warga Baran dan Mundu saat Menabung dengan Sayur
Setelah program ini bergulir kira-kira 3 bulan, warga mulai merasakan manfaatnya dan kabar baik itu pun mulai banyak diterima warga. Mereka tak perlu repot-repot ke pasar bila ingin memasak sayur. Semuanya sudah tersedia di halaman rumah mereka, termasuk tidak perlu pusing saat harga cabai naik karena cabe juga tersedia di depan rumah.
Namun kemudian muncul masalah baru. Akibat hasil panen sayur yang berlebih akhirnya warga kebingungan untuk memanfaatkan sayuran itu. Akhirnya warga bersama pengurus Saung Ilmu membuat Tabungan Gemah Ripah atau gerakan menabung dengan sayur. Sayur-sayuran yang disetor warga nantinya akan dijual oleh pengurus Saung Ilmu ke pasar atau tengkulak dan hasilnya akan menjadi saldo tabungan warga.
Saya pernah mewawancarai Pak Sumardi (57 th) salah satu warga Baran dan Mundu. Ia salah satu warga yang rajin merawat Dapur Hidupnya. Berkat keuletannya merawat tanaman sayur, dia pula yang menggagas program Tabungan Gemah Ripah. Kini melalui Tabungan Gemah Ripah ini banyak warga yang rajin menanam sayur dan menyetorkannya ke pengurus Saung Ilmu. Dari hasil tabungannya ini warga bisa membiayai pendidikan anak-anak mereka bahkan untuk tabungan di masa depan.
Foto Pak Sumardi Warga Ds Baran Mundu dengan Dapur Hidup miliknya
Pak Sumardi juga memiliki seorang anak yang menjadi pengusaha Mie Ayam di Kota Wonogiri. Anak satu satunya ini tak ketinggalan mendapat berkah dari Dapur Hidup. Ternyata banyak pelanggan mie ayam anaknya yang suka dengan sambal dari cabe Dapur Hidup ketimbang cabe beli di pasar.
“Katanya rasa sambal dari cabai pekarangan rumah bapak itu lebih pedas dari cabai pasar. Padahal cabai ini gratis, kalau di pasar harus bayar,” canda Sumardi. Ia juga bercerita kalau setiap seminggu sekali anaknya pulang ke rumah. Selain untuk silaturrahmi ke orang tuanya dia juga ingin memetik cabai dari pekarangan rumah orang tuanya.
Pak Sumardi juga mengaku bersyukur sejak berjalan program Dapur Hidup dan Tabungan Gemah Ripah, banyak warga yang terbantu. Angka belanja berkurang, penghasilan juga bertambah. Jadi dapur warga bisa terus ngebul.
Menurut saya ini merupakan inovasi daerah yang sangat menarik oleh sebuah lembaga zakat sebagai solusi untuk Indonesia dalam meningkatkan perekonomian warga desa terpencil, apalagi jika sampai merata diterapkan di desa-desa pedalaman seluruh Indonesia yang mayoritas masih memiliki lahan luas. Seperti yang kita tahu, perekonomian di desa-desa pedalaman belum sebaik desa-desa pinggiran kota. Dengan adanya program ini warga bisa menghemat anggaran belanja mereka. Dan dananya bisa dialokasikan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka atau kebutuhan dasar lainnya. Selain itu melalui program menabung dengan sayur kini warga juga punya simpanan yang bisa mereka ambil uangnya jika ada kebutuhan darurat.
Foto-foto diatas saya ambil dari medsos LAZ Al Azhar. Meski saya sudah tidak bekerja di LAZ Al Azhar lagi, namun ssaya sangat tertari dengan konsep nabung dengan sayuran ini ingin saya aplikasikan ke perumahan dekat rumah dan desa-desa lainnya.
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku



0 komentar:
Posting Komentar