Alhamdulillah kemaren tulisan Kisah cinta dalam diam Ali-Fatimah
Part-1 mendapat sambutan luar biasa dari pembaca dan banyak yang
mendesak kami untuk melanjutkan Part-2nya, Alhamdulillah semoga jadi
inspirasi pembelajaran cinta bagi kita semua. Dan bagi teman-teman yang belum sempat baca Part 1 silakan baca disini Kisah cinta dalam diam Ali-fatimah Part 1 .
Setelah diberi semangat serta motivasi oleh sahabatnya, akhirnya
Alipun memberanikan diri menghadap sang nabi, menyampaikan niat baiknya
ingin menikahi fatimah. Memang secara ekonomi
Ali bukan siapa-siapa, tak ada sesuatu yang berharga dari dirinya
kecuali hanya satu set baju perang ditambah persediaan tepung kasar
untuk makannya, sederhana sekali yang masih dimiliki Ali.
Apakah Ali meminta Fatimah untuk menunggunya 1 atau 2 tahun dengan dalih dia mengumpulkan modal terlebih dahulu? serta meminta Fatimah
sabar menantinya dalam kegamangan?, tentu tidak ia lakukan hal itu
karena jelas sangat memalukan baginya. Ali yakin akan pilihannya
menikahi Fatimah tidaklah ringan namun ia siap
dengan segala resikonya, ia berkomitmen mengambil tanggung jawab itu, ia
sadar sesadar-sadarnya kalau Allah maha kaya dan tidak akan
menelantarkan hambanya yang menikah untuk menjaga diri dan
menyempurnakan Agama.
Lamaran Ali pun terjawab, hanya kata sederhana yang muncul dari mulut
sang nabi “Ahlan wa sahlan!”, Ali bingung dengan jawaban Rasulullah,
apa maksudnya? apakah itu tanda penerimaan atau penolakan?.
Ali pun bertemu dengan sahabatnya, dan sahabatnya menanyakan.
“Bagaimana jawab nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..” jawab Ali.
“Apa maksudmu?” tanya balik sahabatnya.
“Menurut kalina apakah ‘Ahlan wa sahlan’ berarti sebuah jawaban!? ia bertanya penuh kebingungan pada sahabatnya.
” Satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!, Ahlan saja sudah berarti ya, sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa sahlan, dua-duanya berarti ya.” jelas sahabatanya.
Dan Alipun menikahi fatimah dengan
menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang ingin disumbangkan
kawan-kawannya tapi nabi meminta membayar cicilannya, Itu hutang. Inilah
kisah dari perjuangan cinta Ali, dibagian satu kita belajar bagaiaman Ali dengan Ridho dan ikhlas mengorbankan cintanya
pada Abu bakr, pada Umar tanpa sedikit cemburu dan sakit hati. Dibagian
kedua ini kita belajar bagaimana Ali mengambil kesempatan serta
tanggung jawab untuk menikahi Fatimah, memang kondisi ekonominya tidak sempurna, namun ia mempunya niat dan komitmen yang sempurna hingga Allah mudahkan jalannya.
Begitulah cinta, tak ada sakit hati, tak ada
cemburu, ia juga tak meminta untuk menunggu dan menantinya dibatas waktu
tapi ia mengambil kesempatan dengan apa yang ia punya. Itulah cinta tentang keberanian, tanggung jawab, komitmen dan keikhlasan. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.
Sumber : http://eepurl.com/bq92Kj

