Cinta
dalam diam, mungkin kalimat ini tak asing lagi di telinga kita, ketika
hati mulai terpaut dengan seseorang jika mengungkapkan padanya menjadi
awal dari kemaksiatan maka tiada hal lain yang dilakukan ialah mencoba
mencintainya dalam diam dan mencintainya dalam untaian doa.
Kisah cinta antara Ali bin abi thalib sahabat rasul yang sekaligus
adalah sepupunya ini memiliki kecerdasan sejak beliau sehingga dialah
dari kalangan anak muda yang mengakui keesaan Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Ali bin abi thalib juga salah satu sahabat yang istimewa
dimata Rasulullah SAW selain beliau tinggal lansung bersama Rasulullah,
dia juga seorang pemberani pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah
disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.
Tersebut Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan
sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam
setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah
kafir quraisy.
Pada suatu ketika fathimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu
dekat dengan nabi, ia telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan
jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal
risalah ini. Dialah abu bakar Ash shiddiq, entah kenapa mendengar berita
ini ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun
tak mengerti, Ali merasa di uji karena terasa apalah dirinya dibanding
dengan Abu Bakr As shiddiq kedudukannya disisi nabi. Dia merasa belum
ada apa-apanya bila dibanding dengan Abu bakar ash shiddiq,
perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak
tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar makkah yang masuk Islam karena
sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah,
Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan
oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan
oleh Abu bakr Ashiddiq sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga
yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud. Dari sisi finansial Abu Bakr seorang
saudagar tentu akan lebih bisa membahagiakan fathimah, sementara Ali?,
hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
Melihat dan memperhitungkan hal ini Ali ikhlas dan bahagia jika
Fathimah bersama Abu bakr Ashiddiq, meskipun ia tak mampu membohongi
rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu
yang namanya cinta?.
“Cinta tak pernah minta untuk menunggu, Ia hanya
mengambil kesempatan dengan segera atau mempersilakan, karena cinta
tentang keberanian dan pengorbanan”
Beberapa waktu berlalu Ali menerima kabar yang menumbuhkan kembali
harapannya, kabar tentang lamaran Abu bakr yang ditolak oleh Fathimah.
Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan
itu.
Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu bakr mundur
muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang
dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang
laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah
bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-faruq, ya, dialah Umar ibn
Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar
fathimah.
Ali pun ridha jika Fathimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika
fathimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah
Abu bakr ashiddiq yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang
bersama Umar dan Abu bakr”.
Namun beberapa saat kemudian Alipun semakin bingung karena ternyata
lamaran Umar di tolak. “Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, seru
sahabat Ansharnya, “Mengapa engkau tak mencoba melamar fathimah?, aku
punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya.Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan!
Akhirnya Ali bin Abi thalib pun memberanikan diri menjumpai Rasulullah
untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi
istrinya. Bagaimana kelanjutan dari kisahnya? Simak di kisah cinta ali
dan fathimah part 2.
Sumber : http://eepurl.com/bq1hd1